Pages

Tampilkan postingan dengan label Siraman Qalbu. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Siraman Qalbu. Tampilkan semua postingan

Kamis, 14 April 2016

Macam-Macam Solawat Nabi dan Keutamaannya

Shalawat kepada Nabi Muhammad adalah salah satu bentuk kita cinta kepada beliau. Apa yang beliau perintahkan kepada kita semuanya merupakan ibadah. Shalawat yang kita ucapkan akan sampai kepada beliau. Betapa beliau sangat mencintai kita sebagai umatnya. Salah satu contohnya adalah ketika masa-masa di akhir hayatnya, yang beliau pikirkan bukan keluarganya, namun adalah umatnya. Oleh karena itu, sudah sepantasnya kita juga mencintai beliau.
Sebenarnya menurut Ulama, ada banyak sekali macam solawat nabi, namun ini sya share beberapa saja, yg terpenting kita senantiasa mengamalkannya.

BERIKUT SOLAWAT NABI BESERTA KEUTAMAANNYA

Sholawat Ma’tsuroh
Shalawat ma’tsuroh adalah shalawat yang kalimat, cara membaca, waktu membaca serta keutamaannya sudah diajarkan oleh Rasulullah SAW sendiri.

أللّٰـهُمَّ صَلِّ عَلٰى مُحّمَّدٍ نِالنَّـبِىِ اْلأُمِّىِّ وَعَلٰى اٰلِهِ وَسَلِّمْ

Artinya : “Ya Allah! Limpahkanlah sholawat kepada Muhammad yang tiada dapat membaca dan menulis (Ummy) dan semoga keselamatan tercurah kepada segenap keluarganya”.


Sholawat Ibrohimiyah
Shalawat Ibrohimiyah memiliki keutamaan antara lain sebagai berikut.

Untuk mendapatkan rahmat dan keselamatan dunia dan akhirat.
Untuk mendapatkan segala macam kebutuhan hidup dunia dan akhirat.
Untuk mendatangkan segala macam hajat dan dapat mempercepat tercapainya semua cita-cita.
Untuk menarik dan memperluas rizki dengan sebanyak-banyaknya.
Untuk mendapatkan kewibawaan yang sangat besar terhadap orang lain.
اَللّـٰـهُمَّ صَلِّ عَلٰى سَـيَّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلٰى أٰلِ سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ كَمَا صَلَّيْتَ عَلٰى سَيِّدِنَا إِبْرَاهِيْمَ وَعَلٰى أَٰلِ سَيِّدِنَا إِبْرَاهِيْمَ وَبَارِكْ عَلٰى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلٰى أٰلِ سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ كَمَا بَارَكْتَ عَلٰى سَيِّدِنَا إِبْرَاهِيْمَ وَعَلٰى أٰلِ سَيِّدِنَا إِبْرَاهِيْمَ فِى الْعٰلَمِيْنَ إِنَّكَ حَمِيْدٌ مَجِيْدٌ.

Artinya : “Ya Allah, limpahkan sholawat kepada Muhammad dan keluargan Muhammad, sebagaiman yang telah Engkau limpahkan pada Ibrahim dan keluarganya, berkatilah Muhammad dan keluarganya sebagaiman Engkau memberkati Ibrahim dan keluarganya. Sesungguhnya Engkau Maha Terpuji lagi Maha Mulia”.


Sholawat Al-Fatih
Shalawat Al-Fatih memiliki keutamaan antara lain sebagai berikut.
Untuk bisa bertemu dengan Rasulullah SAW di dalam mimpi.
Untuk bisa bertemu dan berkumpul dengan Rasulullah SAW di akhirat kelak.
Untuk menghilangkan segala kesempitan hidup dan segala urusan yang sulit.
Untuk mengahups dosa-dosa kecil.
اَللّٰهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ وَبَارِكْ عَلٰى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ اَلْفَاتِحِ لِمَا أُغْلِقَ وَالْخَاتِمِ لِماَ سَبَقَ وَالنَّاصِرِ الْحَقَّ بِالْحَقِّ وَالْهَادِى إِلٰى صِرَاطِكَ الْمُسْـتَقِيْمِ. صَلَّى اللّٰـهُ عَلَيْهِ وَعَلٰى أٰلِهِ وَأَصْحَابِهِ حَقَّ قَدْرِهِ وَمِقْدَارِهِ الْعَظِيْمِ

Artinya: “Ya Allah limpahkanlah rahmat dan keselamatan serta berkah kepada nabi Muhammad SAW, sebagai pemuka sesuatu yang terkunci, dan penutup sesuatu (para nabi) yang terdahulu, dialah penolong yang benar dengan membawa kebenaran serta petunjuk menuju jalan-Mu yang lurus. Semoga Allah melimpahkan rahmat-Nya kepada keluarga dan para sahabatnya dengan sebenar-benarnya dengan pangkat dan kedudukan yang agung”.

Shalawat Quthbul Aqthob
Shalawat Quthbul Aqthob memiliki keutamaan antara lain sebagai berikut.

Untuk menyembuhkan penyakit panas, pusimg, dan batuk.
Untuk menyembuhkan penyakit gila serta penyakit-penyakit lainnya.
اَللّٰـهُمَّ صَلِّ عَلٰى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ فِى اْلأَوَّلِيْنَ وَصَلِّ عَلٰى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ فِى اْلآخِرِيْنَ وَصَلِّ عَلٰى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ فِى اْلـمُرْسَلِيْنَ وَصَلِّ عَلٰى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ فِى الْمَلَإِ اْلأَعْلٰى إِلٰى يَوْمِ الدِّيْنَ

Artinya : ”Ya Allah, berikan rahmat takdzim kepada junjungan kita Nabi Muhammad SAW, di masa-masa permulaan dan berikan rahmat kepada Nabi Muhammad SAW, di masa-masa penghabisan dan berikan rahmat kepada Nabi Muhammad SAW sebagai utusan serta berikan rahmat kepada Nabi Muhammad SAW dan kepada orang-orang yang memiliki kemuliaan sampai hari kiamat“.


Shalawat Mukafaah
Shalawat Mukafah memiliki keutamaan yang luar biasa. Yakni bisa mendapat syafaat dari Nabi Muhammad SAW di hari kiamat.

اَللّٰـهُمَّ صَلِّ عِلٰى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلٰى أٰلِ سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ صَلَاةً دَائِمَةً مَقْبُوْلَةً تُـؤَدِّى بِهَا حَقَّهُ الْعَظِيْمِ

Artinya : “Ya Allah, limpahkanlah rahmat, salam dan berkah kepada junjungan kita Muhammad SAW yang ummi (tidak bisa baca tulis) yang menjadi kekasih Allah SWT, yang luhur pangkatnya dan yang agung kemuliaannya, dan limpahkanlah pula atas keluarganya dan para sahabatnya”.

Demikian penjelasan mengenai macam-macam bacaan shalawat beserta keutamannya. Semoga bermanfaat ya, sekian dan terima kasih.


Sholawat Nariyah
Bismillahirahmanirahiim
Allaahumma sholi sholaatan kaamilataw wa sallim salaaman. Taamman ‘alaa sayyidinaa Muhammadinilladzii tanhallu bihil ‘uqodu wa tan fariju bihil kurobu. Wa tuqdhoobihill hawaa iju wa tunaa lu bihirroghoo ibu, wa husnul khowaatimi wa yustasqol ghomaamu biwaj hihil kariimi wa ‘alaa aalihii washosbihii fii kulli lamhatin wa hafasim bi’adadi kulli ma’luu mi llaka, ya robbal ‘aalamiin. 
Artinya :
Ya Allah, limpahkanlah shalawat yang sempurna dan curahkanlah salam kesejahteraan yang penuh kepada junjungan kami Nabi Muhammad, yang dengan sebab Beliau semua kesulitan dapat terpecahkan, semua kesusahan dapat dilenyapkan, semua keperluan dapat terpenuhi, dan semua yang didambakan serta husnul khatimah dapat diraih, dan berkat dirinya yang mulia hujan pun turun, dan semoga terlimpahkan kepada keluarganya serta para sahabatnya, di setiap detik dan hembusan nafas sebanyak bilangan semua yang diketahui oleh Engkau.

Faedah Shawalat Nariyah
Menurut para ulama, barang siapa yang membaca shalawat nariyah sehabis shalat fardhu sebanyak 11 kali, maka rezekinya tidak akan putus dan disamping itu akan mendapatkan pangkat kedudukan yang tinggi atau tingkatan orang kaya.

SHALAWAT MUNJIYAT

1. Barang siapa yang suka membaca sholawat Tunjina pada setiap hari sebanyak 500 kali,niscaya ALLAH akan mengabulkan semua hajatnya,baik hajat dunia maupun akhirat. Seperti umpamanya,minta kaya atau minta dikaruniai anak,maka akan segera terkabul.
 2. Sebagian Ulama berkata: Sesungguhnya sholawat Tunjina itu adalah sebagian dari gedung-gedung Arsy”.
 3. Barang siapa yang membaca sholawat Tunjina sebanyak 100 kali pada tengah malam setelah sholat Tahajud,maka apa yang di mintanya ALLAH akan segera mengabulkannya,suatu pengabulan yang lebih cepat dari pada kilat.

ALLAHHUMA SHOLIALLA SAYYIDINA MUHAMMAD SHOLATAN TUNJINA BIHA MIN JAMIIL AHWALI WAL AFATI WATAQDHI LANA BIHA MIN JAMIIL HAJATI WATUTHAHHIRUNA BIHA MIN JAMIIS SAYYIATI WATARFAUNA BIHA INDAKA ALAD DARAJA TIWA TUBALLIGHUNA BIHA AQSHAL GHAYATI MIN JAMIIL KHAIRATI FILHAYATI WABADAL MAMAATI WASHALLALLAHU ALA KHAIRI KHALQIHI SAYYIDINA MUHAMMADDIN WAALA ALIHI WASHOHBIHI WASALAM.... 


Artinya :
Ya Allah limpahkanlah rahmat kepada junjungan kita Nabi Muhammad saw, yang dengan rahmat itu Engkau akan menyelamatkan kita dari semua keadaan yang mendebarkan dan dari semua cobaan yang dengan rahmat itu Engkau akan mendatangkan kepada kita hajat, Yang dengan rahmat itu Engkau akan membersihkan kita dari semua keburukan/kesalahan. Yang dengan rahmat itu Engkau akan mengangkat kita kepada setinggi-tinggi derajat.Yang dengan rahmat itu pula Engkau akan menyampaikan kita kepada sesempurna-sempurnanya semua maksud dari semua kebaikan pada waktu hidup dan setelah mati, karena sesungguhnya Engkaulah Maha  Kuasa atas segala sesuatu. 

Senin, 28 Maret 2016

Kenapa belum menikah juga?

Rabu, 27 Januari 2016

7 Rahasia Mendidik Anak dari Ustdz Farid Ahmad

Assalamualaikum ....
Dalam kehidupan berkeluarga, setiap orang tua tentu mengharapkan anak-anaknya dapat tumbuh menjadi anak-anak yang baik, dapat dibanggakan dan mempunyai karakter atau sifat-sifat yang positif dalam segala hal. Kebanyakan orang tua akan melakukan segalanya demi membahagiakan anak-anak mereka dengan memberikan segalanya yang mereka inginkan, namun ternyata hal ini tidak selalu baik dalam proses mendidik anak.
  1. Jika melihat anakmu menangis, jangan buang waktu untuk mendiamkannya. Coba tunjuk burung atau awan di atas langit agar ia melihatnya, ia akan terdiam. Karena psikologis manusia saat menangis, adalah menunduk.
  2. Jika ingin anak-anakmu berhenti bermain, jangan berkata: “Ayo, sudah mainnya, stop sekarang!”. Tapi katakan kepada mereka: “Mainnya 5 menit lagi yaaa”. Kemudian ingatkan kembali: “Dua menit lagi yaaa”. Kemudian barulah katakan: “Ayo, waktu main sudah habis”. Mereka akan berhenti bermain.
  3. Jika engkau berada di hadapan sekumpulan anak-anak dalam sebuah tempat, yang mereka berisik dan gaduh, dan engkau ingin memperingatkan mereka, maka katakanlah: “Ayoo.. Siapa yang mau mendengar cerita saya, angkat tangannya..”. Salah seorang akan mengangkat tangan, kemudian disusul dengan anak-anak yang lain, dan semuanya akan diam.
  4. Katakan kepada anak-anak menjelang tidur: “Ayo tidur sayang.. besok pagi kan kita sholat subuh”, maka perhatian mereka akan selalu ke akhirat. Jangan berkata: “Ayo tidur, besok kan sekolah”, akhirnya mereka tidak sholat subuh karena perhatiannya adalah dunia.
  5. Nikmati masa kecil anak-anakmu, karena waktu akan berlalu sangat cepat. Kepolosan dan kekanak-kanakan mereka tidak akan lama, ia akan menjadi kenangan. Bermainlah bersama mereka, tertawalah bersama mereka, becandalah bersama mereka. Jadilah anak kecil saat bersama mereka, ajarkan mereka dengan cara yang menyenangkan sambil bermain.
  6. Tinggalkan HP sesaat kalau bisa, dan matikan juga TV. Jika ada teman yang menelpon, katakan: “Maaf saaay, saat ini aku sedang sibuk mendampingi anak-anak”. Semua ini tidak menyebabkan jatuhnya wibawamu, atau hilangnya kepribadianmu. Orang yang bijaksana tahu bagaimana cara menyeimbangkan segala sesuatu dan menguasai pendidikan anak.
  7. Selain itu, jangan lupa berdoa dan bermohon kepada Allah, agar anak-anak kita menjadi perhiasan yang menyenangkan, baik di dunia maupun di akhirat. (9kontroversi)
Nah, sekian 7 Rahasia Mendidik Anak dari Ustdz Farid Ahmad, semoga bermanfaat dan semoga Allah meridhoi kita semua aaamiiiin....

Rabu, 11 Februari 2015

Carilah Kaya dengan Nikah

Sebagian pemuda begitu khawatir untuk menikah karena khawatir dalam hal rizki. Padahal saat ini ia telah berpenghasilan cukup, sudah bisa ditakar ia dapat menghidupi seorang istri. Namun begitulah, kekhawatiran demi kekhawatiran terus menghantuinya sehingga ia pun mengulur waktu untuk segera menikah. Padahal janji Allah itu pasti, Dia akan mencukupi kita jika kita miskin. Karena kita harus yakin bahwa Allah-lah pemberi rizki setelah kita melakukan usaha.
Ayat yang bisa menjadi renungan adalah firman Allah Ta’ala,
وَأَنكِحُوا اْلأَيَامَى مِنكُمْ وَالصَّالِحِينَ مِنْ عِبَادِكُمْ وَإِمَآئِكُمْ إِن يَكُونُوا فُقَرَآءَ يُغْنِهِمُ اللهُ مِن فَضْلِهِ وَاللهُ وَاسِعٌ عَلِيمٌ
Dan kawinkanlah orang-orang yang sendirian di antara kamu, dan orang-orang yang layak (berkawin) dari hamba-hamba sahayamu yang lelaki dan hamba-hamba sahayamu yang perempuan. Jika mereka miskin Allah akan memampukan mereka dengan karunia-Nya. Dan Allah Maha luas (pemberian-Nya) lagi Maha Mengetahui.” (QS. An Nuur: 32).
Di antara tafsiran Surat An Nur ayat 32 di atas adalah: jika kalian itu miskin maka Allah yang akan mencukupi rizki kalian. Boleh jadi Allah mencukupinya dengan memberi sifat qona’ah (selalu merasa cukup) dan boleh jadi pula Allah mengumpulkan dua rizki sekaligus (Lihat An Nukat wal ‘Uyun). Jika miskin saja, Allah akan cukupi rizkinya, bagaimana lagi jika yang bujang sudah berkecukupan dan kaya?
Dari ayat di atas, Ibnu Mas’ud radhiyallahu ‘anhu berkata,
التمسوا الغنى في النكاح
Carilah kaya (hidup berkecukupan) dengan menikah.”  (Lihat Tafsir Al Qur’an Al ‘Azhim mengenai tafsir ayat di atas). Lihatlah pemahaman cemerlang dari seorang Ibnu Mas’ud karena yakin akan janji Allah.
Disebutkan pula dalam hadits bahwa Allah akan senantiasa menolong orang yang ingin menjaga kesucian dirinya lewat menikah. Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu bahwasanya Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda tentang tiga golongan yang pasti mendapat pertolongan Allah. Di antaranya,
وَالنَّاكِحُ الَّذِي يُرِيدُ الْعَفَافَ
“… seorang yang menikah karena ingin menjaga kesuciannya.” (HR. An Nasai no. 3218, At Tirmidzi no. 1655. Syaikh Al Albani mengatakan bahwa hadits ini hasan). Ahmad bin Syu’aib Al Khurasani An Nasai membawakan hadits tersebut dalam Bab “Pertolongan Allah bagi orang yang nikah yang ingin menjaga kesucian dirinya”. Jika Allah telah menjanjikan demikian, itu berarti pasti. Maka mengapa mesti ragu?
Patut dipahami …
Allah memberi rizki tanpa ada kesulitan dan sama sekali tidak terbebani. Ath Thohawi rahimahullah dalam matan kitab aqidahnya berkata, “Allah itu Maha Pemberi Rizki dan sama sekali tidak terbebani.” Seandainya semua makhluk meminta pada Allah, Dia akan memberikan pada mereka dan itu sama sekali tidak akan mengurangi kerajaan-Nya sedikit pun juga. Dalam hadits qudsi disebutkan, Allah Ta’ala berfirman,
يَا عِبَادِى لَوْ أَنَّ أَوَّلَكُمْ وَآخِرَكُمْ وَإِنْسَكُمْ وَجِنَّكُمْ قَامُوا فِى صَعِيدٍ وَاحِدٍ فَسَأَلُونِى فَأَعْطَيْتُ كُلَّ إِنْسَانٍ مَسْأَلَتَهُ مَا نَقَصَ ذَلِكَ مِمَّا عِنْدِى إِلاَّ كَمَا يَنْقُصُ الْمِخْيَطُ إِذَا أُدْخِلَ الْبَحْرَ
Wahai hamba-Ku, seandainya orang-orang yang terdahulu dan orang-orang yang belakangan serta semua jin dan manusia berdiri di atas bukit untuk memohon kepada-Ku, kemudian masing-masing Aku penuh permintaannya, maka hal itu tidak akan mengurangi kekuasaan yang ada di sisi-Ku, melainkan hanya seperti benang yang menyerap air ketika dimasukkan ke dalam lautan.” (HR. Muslim no. 2577, dari Abu Dzar Al Ghifari). Mengenai hadits ini, Ibnu Rajab rahimahullah berkata, “Hadits ini memotivasi setiap makhluk untuk meminta pada Allah dan meminta segala kebutuhan pada-Nya.” (Jaami’ul ‘Ulum wal Hikam, 2: 48)
Dalam hadits dikatakan, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
« إِنَّ اللَّهَ قَالَ لِى أَنْفِقْ أُنْفِقْ عَلَيْكَ ». وَقَالَ رَسُولُ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- « يَمِينُ اللَّهِ مَلأَى لاَ يَغِيضُهَا سَحَّاءُ اللَّيْلَ وَالنَّهَارَ أَرَأَيْتُمْ مَا أَنْفَقَ مُذْ خَلَقَ السَّمَاءَ وَالأَرْضَ فَإِنَّهُ لَمْ يَغِضْ مَا فِى يَمِينِهِ »
“Allah Ta’ala berfirman padaku, ‘Berinfaklah kamu, niscaya Aku akan berinfak (memberikan ganti) kepadamu.’ Dan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda, “Pemberian Allah selalu cukup, dan tidak pernah berkurang walaupun mengalir siang dan malam. Adakah terpikir olehmu, sudah berapa banyakkah yang diberikan Allah sejak terciptanya langit dan bumi? Sesungguhnya apa yang ada di Tangan Allah tidak pernah berkurang karenanya.” (HR. Bukhari no. 4684 dan Muslim no. 993).
Ibnu Hajar Al Asqolani rahimahullah berkata, “Allah sungguh Maha Kaya. Allah yang memegang setiap rizki yang tak terhingga, yakni melebihi apa yang diketahui setiap makhluk-Nya.” (Fathul Bari, 13: 395)
Dengan merenungkan hal ini, semoga Allah memberi taufik pada Anda yang masih ragu untuk menikah untuk segera menuju pelaminan. Berusahalah dalam mengais rizki dan tawakkal pada Allah, niscaya akan selalu ada jalan keluar. Barangkali di awal nikah atau ingin beranjak, Anda akan penuh rasa khawatir atau merasa berat dalam hidup. Namun jika Anda yakin terhadap hal di atas, niscaya kekhawatiran akan beralih menjadi percaya dan rizki pun akan datang dengan mudah, asalkan berusaha dan terus bekerja demi menghidupi keluarga. Later on … Trust in the promise of Allah! Believe and always believe.
Wallahu waliyyut taufiq.

@ Ummul Hamam, Riyadh KSA, 25 Dzulhijjah 1432 H
Penulis: Muhammad Abduh Tuasikal
Artikel www.remajaislam.com , dipublish ulang oleh www.rumaysho.com

Selasa, 27 Mei 2014

Jangan Jadi Suami Egois


Sering terbayang di benak pikiran sebagian suami, bahwa dia tidak sukses di dalam memilih istri ideal yang diidam-idamkannya. Entah wajah sang istri yang kurang cantiklah. Postur tubuhnya yang kurang menariklah. Atau sifat dan tabiat sang istri yang tidak berkenan di hati.
Pikiran ini senantiasa menghantui hati sanubari sang suami sehingga berdampak pada perubahan sikap terhadap isterinya. Jika tadinya ia begitu menggebu-gebu mencintai isterinya maka kini berubah menjadi membencinya. Jika dulu jargonnya adalah "makan tak makan yang penting kumpul," "siap tinggal di gubuk derita beratap langit beralaskan koran" atau yang sejenisnya sebagai ungkapan keinginan untuk selalu bersama, seia sekata, bagaimanapun kondisinya, maka sekarang berbeda.
Jangankan kondisi tak (ada) makanan, sudah disiapkan oleh isteri makanan yang enak pun, terasa segan saja untuk menyentuhnya. Yang sangat menyedihkan, di antara mereka ini ada pula yang sampai memperlakukan isterinya dengan perlakuan yang kasar, "main tangan," tanpa sedikit pun ada perasaan belas kasihan!
Suami semacam ini tentunya lupa pada firman Allah yang menyebutkan: "Dan pergauilah isteri-isteri kalian dengan baik. Kemudian bila kamu tidak menyukai mereka, (maka bersabarlah) karena mungkin kamu tidak menyukai sesuatu, padahal Allah menjadikan padanya kebaikan yang banyak." (QS. An-Nisaa 4:19). Begitupula sabda Nabi saw yang menyatakan: "orang mukmin yang paling sempurna imannya adalah yang paling baik budi pekertinya, dan sebaik-baik kalian adalah orang paling baik perlakuannya terhadap isterinya."
Jadi untuk menjadi manusia (atau suami) 'super' sebenarnya tidaklah sulit. Selain imannya bener, pinter, dan badannya seger, ia juga harus memperlakukan isterinya secara bener.
Dalam hadits lain, Nabi saw bersabda: "Janganlah seorang mukmin (suami) membenci isterinya berlebihan. Jika dia tidak menyukai sebagian sifat (tabiat, penampilan) isterinya, tapi dia menyukai sebagian sifat (tabiat, penampilan) yang lain."
Hadits ini telah mengingatkan kita akan suatu hal yang sangat urgen. Yaitu hendaknya para suami (termasuk juga isteri) sadar, bahwa kesempurnaan (al kamal) hanyalah milik Allah semata. Karenanya, janganlah meminta kesempurnaan di jagat raya ini, tetapi mintalah yang terbaik dari yang ada. Kemudian bercermin dan bertanyalah: "Apakah diri kita bebas dari kekurangan baik dari segi fisik (jasadi) maupun non fisik (ma'nawi)?"
Sesungguhnya kita semua pasti memiliki kekurangan. Dan karena itu, jangan meminta orang lain untuk menjadi sempurna. Cukup sederhana tampaknya. Hanya saja, sebagian suami seringkali memanfaatkan posisinya sebagai "qawwam", kepala rumah tangga, untuk menempatkan isterinya sebagai "terdakwa". Termasuk dalam hal ini adalah 'kelemahan-kelemahan' istri yang dilihatnya tidak sempurna.
Tipe suami semacam ini bukan hanya sebuah cerita kosong yang berlebih-lebihan tetapi memang nyata adanya dan dapat menimbulkan kesengsaraan dalam kehidupan rumah tangga. Karena itulah, Ali bin Abi Thalib mewanti-wanti para ayah untuk selalu mencarikan hanya lelaki shaleh sebagai jodoh bagi anak perempuannya.
Ketika itu, seorang lelaki bertanya kepada Sayyidina 'Ali ra: "Saya mempunyai seorang putri, dengan siapa saya akan menikahkannya?" Beliau menjawab: "Nikahkan dia dengan orang yang bertaqwa kepada Allah. Sebab, jika dia mencintai (isteri)nya, dia akan memuliakannya. Tapi, jika dia membenci (istri)nya, dia tidak akan menzhaliminya."
Sesungguhnya suami yang mengidam-idamkan isterinya bebas dari berbagai kekurangan, di satu sisi dapat diibaratkan sebagai seorang zauj mitsaaliy, suami teladan, karena keinginan itu menunjukkan betapa si suami ingin isterinya sempurna. Tetapi pada saat yang bersamaan dia juga seorang lelaki anaaniy, egois, karena mengharapkan kebahagiaan untuk dirinya sendiri saja. Mengapa? Karena sudah jelas, tidak ada seorang pun anak cucu Nabi Adam di dunia ini yang bebas dari 'aib dan kekurangan. Namun demikian, persoalan ini tentu tidak dapat diartikan sebagai upaya meligitimasi dan mentolerir kekurangan isteri yang terkait dengan sifat, akhlak ataupun penampilan yang bisa jadi tidak sesuai dengan nilai-nilai Islam.
Seorang suami tak dapat meng-acuh-tak-acuh-kan kekurangan itu. Justru kita, para suamilah yang paling berkewajiban mengubahnya. Tetapi semua usaha mengarahkan, mengajak dan mengubah kekurangan istri ini tetap harus dilakukan dengan lembut dan lewat mu'amalah (perlakuan) yang baik. Bukan dengan cara yang kasar dan emosional.
Apalagi perlakuam lemah-lembut, baik dan adil terhadap isteri ini diajarkan langsung oleh Rasulullah dan disebutkan sebagai sebuah kebaikan yang bermuara pada keridhoan Allah, seperti tampak pada dua hadits berikut ini.
Mu'awiyah bin 'Ubaidah bercerita: saya bertanya kepada Rasulullah saw: apa kewajiban suami terhadap isteri? Beliau saw menjawab: "Dia wajib memberi makan isterinya jika dia makan, dan memberinya pakaian jika dia memakai pakaian. Dan janganlah engkau memukul wajahnya, jangan mencacimakinya, dan jangan menghajar (meninggalkan)nya kecuali di dalam rumah." (HR. Abu Daud dan Ahmad).
Beliau saw juga bersabda: "Al Muqsithun di hari kiamat berada pada mimbar-mimbar dari nur (cahaya) dan pada Tangan Kanan ar Rahman (dan kedua Tangah Allah itu Kanan), yaitu orang-orang yang berbuat adil di dalam memutuskan hukuman (perkara), adil terhadap isteri-isteri mereka, dan adil terhadap tugas yang dibebankan kepadanya." (HR. Muslim).
Dalam praktek sehari-hari, para suami juga harus menyadari bahwa perlakuan yang tidak baik akan sangat berdampak negatif pada kinerja isteri di rumah. Padahal pada saat bersamaan, kita mengharapkan istri dapat menjadi madrasah, tempat tarbiyah, pembelajaran, serta pengasahan keshalehan dan intelektualitas anak-anak kita. Sebagaimana seorang penyair telah berkata: Al Ummu Madrasatun Idzaa A'dadataha, A'dadta Sya'ban Thayiba'l A'raaqi, yang berarti seorang Ibu (baca juga: isteri) adalah madrasah, apabila kamu mempersiapkannya dengan baik maka kamu sama dengan mempersiapkan bangsa yang unggul."
Untuk itu, mari kita coba mengikis habis keegoisan kita, para suami, agar dapat menjadi suami yang adil dan bijaksana dengan menghayati pernyataan seorang penyair: Wa Mandzalladzi Turdha Sajaayaahu Kulluhu, Kafaa'l Mar'u Nublaan An Tu'addu Ma'aayibuhu. Artinya, "Mana ada orang yang disenangi semua sifat-sifatnya (sempurna). Cukuplah seseorang itu mulia manakala ia dapat dihitung (diketahui) kekurangan-kekurangannya."

Ahmad Kusyairi Suhail, Lc.
(Kandidat master di bidang Tafsir-Hadits di King Saud University Riyadh, Saudi Arabia)

Ilmu Pembersih Hati

Ada sebait do'a yang pernah diajarkan Rasulullah SAW dan disunnahkan untuk dipanjatkan kepada Allah Azza wa Jalla sebelum seseorang hendak belajar. do'a tersebut berbunyi : Allaahummanfa'nii bimaa allamtanii wa'allimnii maa yanfa'uni wa zidnii ilman maa yanfa'unii. Dengan do'a ini seorang hamba berharap dikaruniai oleh-Nya ilmu yang bermamfaat.
Apakah hakikat ilmu yang bermamfaat itu? Secara syariat, suatu ilmu disebut bermamfaat apabila mengandung mashlahat - memiliki nilai-nilai kebaikan bagi sesama manusia ataupun alam. Akan tetapi, mamfaat tersebut menjadi kecil artinya bila ternyata tidak membuat pemiliknya semakin merasakan kedekatan kepada Dzat Maha Pemberi Ilmu, Allah Azza wa Jalla. Dengan ilmunya ia mungkin meningkat derajat kemuliaannya di mata manusia, tetapi belum tentu meningkat pula di hadapan-Nya.
Oleh karena itu, dalam kacamata ma'rifat, gambaran ilmu yang bermamfaat itu sebagaimana yang pernah diungkapkan oleh seorang ahli hikmah. "Ilmu yang berguna," ungkapnya, "ialah yang meluas di dalam dada sinar cahayanya dan membuka penutup hati." seakan memperjelas ungkapan ahli hikmah tersebut, Imam Malik bin Anas r.a. berkata, "Yang bernama ilmu itu bukanlah kepandaian atau banyak meriwayatkan (sesuatu), melainkan hanyalah nuur yang diturunkan Allah ke dalam hati manusia. Adapun bergunanya ilmu itu adalah untuk mendekatkan manusia kepada Allah dan menjauhkannya dari kesombongan diri."
Ilmu itu hakikatnya adalah kalimat-kalimat Allah Azza wa Jalla. Terhadap ilmunya sungguh tidak akan pernah ada satu pun makhluk di jagat raya ini yang bisa mengukur Kemahaluasan-Nya. sesuai dengan firman-Nya, "Katakanlah : Kalau sekiranya lautan menjadi tinta untuk (menuliskan) kalimat-kalimat Tuhanku, sungguh habislah lautan itu sebelum habis (dituliskan) kalimat-kalimat Tuhanku, meskipun Kami datangkan tambahan sebanyak itu (pula)." (QS. Al Kahfi [18] : 109).
Adapun ilmu yang dititipkan kepada manusia mungkin tidak lebih dari setitik air di tengah samudera luas. Kendatipun demikian, barangsiapa yang dikaruniai ilmu oleh Allah, yang dengan ilmu tersebut semakin bertambah dekat dan kian takutlah ia kepada-Nya, niscaya "Allah akan meninggikan orang-orang yang beriman di antaramu dan orang-orang yang diberi ilmu pengetahuan beberapa derajat." (QS. Al Mujadilah [58] : 11). Sungguh janji Allah itu tidak akan pernah meleset sedikit pun!
Akan tetapi, walaupun hanya "setetes" ilmu Allah yang dititipkan kepada mnusia, namun sangat banyak ragamnya. ilmu itu baik kita kaji sepanjang membuat kita semakin takut kepada Allah. Inilah ilmu yang paling berkah yang harus kita cari. sepanjang kita menuntut ilmu itu jelas (benar) niat maupun caranya, niscaya kita akan mendapatkan mamfaat darinya.
Hal lain yang hendaknya kita kaji dengan seksama adalah bagaimana caranya agar kita dapat memperoleh ilmu yang sinar cahayanya dapat meluas di dalam dada serta dapat membuka penutup hati? Imam Syafii ketika masih menuntut ilmu, pernah mengeluh kepada gurunya. "Wahai, Guru. Mengapa ilmu yang sedang kukaji ini susah sekali memahaminya dan bahkan cepat lupa?" Sang guru menjawab, "Ilmu itu ibarat cahaya. Ia hanya dapat menerangi gelas yang bening dan bersih." Artinya, ilmu itu tidak akan menerangi hati yang keruh dan banyak maksiatnya.
Karenanya, jangan heran kalau kita dapati ada orang yang rajin mendatangi majelis-majelis ta'lim dan pengajian, tetapi akhlak dan perilakunya tetap buruk. Mengapa demikian? itu dikarenakan hatinya tidak dapat terterangi oleh ilmu. Laksana air kopi yang kental dalam gelas yang kotor. Kendati diterangi dengan cahaya sekuat apapun, sinarnya tidak akan bisa menembus dan menerangi isi gelas. Begitulah kalau kita sudah tamak dan rakus kepada dunia serta gemar maksiat, maka sang ilmu tidak akan pernah menerangi hati.
Padahal kalau hati kita bersih, ia ibarat gelas yang bersih diisi dengan air yang bening. Setitik cahaya pun akan mampu menerangi seisi gelas. Walhasil, bila kita menginginkan ilmu yang bisa menjadi ladang amal shalih, maka usahakanlah ketika menimbanya, hati kita selalu dalam keadaan bersih. hati yang bersih adalah hati yang terbebas dari ketamakan terhadap urusan dunia dan tidak pernah digunakan untuk menzhalimi sesama. Semakin hati bersih, kita akan semakin dipekakan oleh Allah untuk bisa mendapatkan ilmu yang bermamfaat. darimana pun ilmu itu datangnya. Disamping itu, kita pun akan diberi kesanggupan untuk menolak segala sesuatu yang akan membawa mudharat.
Sebaik-baik ilmu adalah yang bisa membuat hati kita bercahaya. Karenanya, kita wajib menuntut ilmu
sekuat-kuatnya yang membuat hati kita menjadi bersih, sehingga ilmu-ilmu yang lain (yang telah ada dalam diri kita) menjadi bermamfaat.
Bila mendapat air yang kita timba dari sumur tampak keruh, kita akan mencari tawas (kaporit) untuk menjernihkannya. Demikian pun dalam mencari ilmu. Kita harus mencari ilmu yang bisa menjadi "tawas"-nya supaya kalau hati sudah bening, ilmu-ilmu lain yang kita kaji bisa diserap seraya membawa mamfaat.
Mengapa demikian? Sebab dalam mengkaji ilmu apapun kalau kita sebagai penampungnya dalam keadaan kotor dan keruh, maka tidak bisa tidak ilmu yang didapatkan hanya akan menjadi alat pemuas nafsu belaka. Sibuk mengkaji ilmu fikih, hanya akan membuat kita ingin menang sendiri, gemar menyalahkan pendapat orang lain, sekaligus aniaya dan suka menyakiti hati sesama. Demikian juga bila mendalami ilmu ma'rifat. Sekiranya dalam keadan hati busuk, jangan heran kalau hanya membuat diri kita takabur, merasa diri paling shalih, dan menganggap orang lain sesat.
Oleh karena itu, tampaknya menjadi fardhu ain hukumnya untuk mengkaji ilmu kesucian hati dalam rangka ma'rifat, mengenal Allah. Datangilah majelis pengajian yang di dalamnya kita dibimbing untuk riyadhah, berlatih mengenal dan berdekat-dekat dengan Allah Azza wa Jalla. Kita selalu dibimbing untuk banyak berdzikir, mengingat Allah dan mengenal kebesaran-Nya, sehingga sadar betapa teramat kecilnya kita ini di hadapan-Nya.
Kita lahir ke dunia tidak membawa apa-apa dan bila datang saat ajal pun pastilah tidak membawa apa-apa. Mengapa harus ujub, riya, takabur, dan sum'ah. Merasa diri besar, sedangkan yang lain kecil. Merasa diri lebih pintar sedangkan yang lain bodoh. Itu semua hanya karena sepersekian dari setetes ilmu yang kita miliki? Padahal, bukankah ilmu yang kita miliki pada hakikatnya adalah titipan Allah jua, yang sama sekali tidak sulit bagi-Nya untuk mengambilnya kembali dari kita?
Subhanallaah! Mudah-mudahan kita dimudahkan oleh-Nya untuk mendapatkan ilmu yang bisa menjadi penerang dalam kegelapan dan menjadi jalan untuk dapat lebih bertaqarub kepada-Nya.***

Takdir Allah Tidak Kejam

Pembaca yang budiman, iman kepada takdir merupakan salah satu rukun iman yang enam. Barangsiapa tidak mengimaninya sungguh dia telah terjerumus dalam kekafiran meskipun dia mengimani rukun-rukun iman yang lainnya. Walhamdulillah banyak diantara kaum muslimin yang telah mengenal takdir, akan tetapi amat disayangkan ternyata masih terdapat berbagai fenomena yang justru menodai bahkan bertentangan dengan keimanan kepada takdir.
Barangkali masih tersimpan dalam ingatan kita tatkala seorang artis mempopulerkan lagu ‘Takdir memang kejam’ yang sangat digemari oleh sebagian masyarakat negeri ini beberapa waktu lampau, yang menunjukkan betapa mudahnya masyarakat kita menerima sesuatu yang menurut mereka bagus namun pada hakikatnya justeru merusak akidah mereka. Karena itulah setiap muslim wajib membekali dirinya dengan pemahaman takdir yang benar sebagaimana yang diajarkan oleh Allah dan Rosul-Nya. Dalam mengimani takdir ada empat hal yang harus diyakini dalam dada setiap muslim yaitu al ‘ilmu, al kitabah, al masyi’ah dan al kholq.
Pertama, Al ‘Ilmu (Tentang Ilmu Allah)
Kita meyakini bahwa ilmu Allah Ta’ala meliputi segala sesuatu secara global dan terperinci yang terjadi sejak zaman azali (yang tidak berpermulaan) sampai abadi (yang tidak berkesudahan). Allah Ta’ala berfirman, “Apakah kamu tidak mengetahui bahwa sesungguhnya Allah mengetahui apa saja yang ada di langit dan di bumi?; bahwasanya yang demikian itu terdapat dalam sebuah kitab (Lauh Mahfuzh). Sesungguhnya yang demikian itu amat mudah bagi Allah.” (Al Hajj: 70). Allah sudah tahu siapa saja yang akan menghuni Surga dan siapa yang akan menghuni Neraka. Tidak ada satupun makhluk di langit maupun di bumi bahkan di dalam perut bumi sekalipun yang luput dari pengetahuan-Nya.
Kedua, Al Kitabah (Tentang Penulisan Ilmu Allah)
Kita meyakini bahwa Allah Ta’ala telah menuliskan ilmu-Nya tentang segala sesuatu yang terjadi di dalam Lauhul Mahfuzh sejak 50 ribu tahun sebelum penciptaan langit dan bumi. Rosululloh shollAllahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Allah telah menulis takdir seluruh makhluk ciptaan-Nya semejak lima puluh ribu tahun sebelum penciptaan langit dan bumi.” (HR. Muslim). Takdir yang ditulis di Lauhul Mahfuzh ini tidak pernah berubah. Berdasarkan ilmu-Nya, Allah telah menuliskan siapa saja yang termasuk penghuni surga dan siapa yang termasuk penghuni neraka. Namun tidak ada satu orangpun yang mengetahui apa yang ditulis di Lauhul Mahfuzh kecuali setelah hal itu terjadi.
Ketiga, Al Masyi’ah (Tentang Kehendak Allah)
Kita meyakini bahwa Allah Ta’ala memiliki kehendak yang meliputi segala sesuatu. Tidak ada satu perbuatan makhluk pun yang keluar dari kehendak-Nya. Segala sesuatu yang terjadi semuanya di bawah kehendak (masyi’ah) Allah, entah itu disukai atau tidak disukai oleh syari’at. Inilah yang disebut dengan Irodah Kauniyah Qodariyah atau Al Masyi’ah. Seperti adanya ketaatan dan kemaksiatan itu semua terjadi di bawah kehendak Allah yang satu ini. Meskipun kemaksiatan itu tidak diinginkan terjadi oleh aturan syari’at.
Di sisi lain Allah memiliki Irodah Syar’iyah Diniyah. Di dalam jenis kehendak/irodah yang kedua ini terkandung kecintaan Allah. Maka orang yang berbuat taat telah menuruti 2 macam kehendak Allah ini. Adapun orang yang bermaksiat dia telah menyimpang dari Irodah Syar’iyah namun tidak terlepas dari Irodah Kauniyah. Lalu apakah orang yang bermaksiat ini terpuji? Jawabnya, Tidak. Karena dia telah melakukan perkara yang tidak dicintai d bahkan dibenci oleh Allah.
Keempat, Al Kholq (Tentang Penciptaan Segala Sesuatu Oleh Allah)
Kita meyakini bahwa segala sesuatu yang ada di alam semesta adalah makhluk ciptaan Allah baik itu berupa dzat maupun sifat, demikian juga seluruh gerak-gerik yang terjadi di dalamnya. Allah Ta’ala befirman, “Allah adalah pencipta segala sesuatu.” (Az Zumar: 62). Perbuatan hamba juga termasuk makhluk ciptaan Allah, karena perbuatan tersebut terjadi dengan kehendak dan kemampuan hamba; yang kedua-duanya ada karena diciptakan oleh Allah. Allah Ta’ala berfirman, “Allah-lah yang Menciptakan kalian dan amal perbuatan kalian.” (QS. Ash Shoffaat: 96)
Sumber Kesesatan Dalam Memahami Takdir
Sesungguhnya kesesatan dalam memahami takdir bersumber dari kesalahpahaman dalam memahami kehendak/irodah Allah. Mereka yang menganggap terjadinya kemaksiatan terjadi di luar kehendak Allah telah menyingkirkan dalil-dalil Al Kitab dan As Sunnah yang menunjukkan tentang Irodah Kauniyah. Orang-orang semacam ini akhirnya terjatuh dalam kesesatan tipe Qodariyah yang menolak takdir. Sedangkan mereka yang menganggap segala sesuatu yang ada baik ketaatan maupun kemaksiatan terjadi karena dicintai Allah telah menyingkirkan dalil-dalil Al Kitab dan As Sunnah yang mengancam hamba yang menyimpang dari Irodah Syar’iyah. Orang-orang semacam ini akhirnya terjatuh dalam kesesatan tipe Jabriyah yang menganggap hamba dalam keadaan dipaksa oleh Allah. Maha Suci lagi Maha Tinggi Allah dari apa yang mereka katakan. Maka Ahlus Sunnah berada di tengah-tengah, mereka mengimani Irodah Syar’iyah dan Irodah Kauniyah, dan inilah pemahaman Nabi dan para sahabat.
Takdir Adalah Rahasia Allah
Ali bin Abi Tholib rodhiyAllahu ‘anhu menceritakan bahwa Nabi shollAllahu ‘alaihi wa sallam pernah bersabda, “Setiap kalian telah ditulis tempat duduknya di surga atau di neraka.” Maka ada seseorang dari suatu kaum yang berkata, “Kalau begitu kami bersandar saja (tidak beramal-pent) wahai Rosululloh?”. Maka beliau pun menjawab, “Jangan demikian, beramallah kalian karena setiap orang akan dimudahkan”, kemudian beliau membaca firman Allah, “Adapun orang-orang yang mau berderma dan bertakwa serta membenarkan Al Husna (Surga) maka kami siapkan baginya jalan yang mudah.” (QS. Al Lail: 5-7). (HR. Bukhori dan Muslim). Inilah nasehat Nabi kepada kita untuk tidak bertopang dagu dan supaya senantiasa bersemangat dalam beramal dan tidak menjadikan takdir sebagai dalih untuk bermaksiat.
Pilih Mana: Jalan ke Surga Atau ke Neraka?
Apabila di hadapan anda terdapat 2 buah jalan; yang satu menuju daerah yang penuh kekisruhan dan ketidakamanan, sedangkan jalan yang satunya menuju daerah yang penuh ketentraman dan keamanan. Akan kemanakah anda akan melangkahkan kaki? Akal sehat tentu tidak memilih jalan yang pertama. Maka demikian pulalah seharusnya kita bersikap dalam memilih jalan yang menuju kehidupan akhirat kita, hendaknya jalan ke surga itulah yang kita pilih bukan sebaliknya. Alangkah tidak adilnya manusia yang memilih kesenangan duniawi dengan akalnya namun justeru memilih kesengsaraan akhirat dengan dalih takdir dan membuang akal sehatnya. Suatu saat ada pencuri yang hendak dipotong tangan oleh kholifah Umar, namun pencuri ini mengatakan, “Wahai Amirul Mukminin sesungguhnya aku mencuri hanya karena takdir Allah.” Umar pun menjawab, “Dan Kami pun memotong tangan dengan takdir Allah.” Lalu siapakah yang kejam? Bukan takdir Allah yang kejam tapi merekalah yang menganiaya diri mereka sendiri. WAllahu a’lam bish showaab

10 Ciri-ciri Pria yang Baik Sebagai Pasangan Hidupmu

Mencari pria untuk sekedar menjadi pacar sebenarnya bukan hal yang sulit. Yang sulit adalah mencari pria yang pantas untuk menjadi pendamping hidupmu. Sayangnya, banyak pria di luar sana yang memanfaatkan kelemahan wanita yang rentan terhadap rayuan untuk dengan mudah mendapatkan mereka. Supaya kamu dapat memilih pasangan hidup yang tepat, berikut ini adalah 10 ciri-ciri pria yang baik dan untuk dijadikan pasangan hidupmu:
1. Pria yang bisa memperlakukanmu dengan baik
Bukan dengan memperlakukanmu seperti putri raja dan memanjakanmu setiap hari, tetapi ia tahu apa yang harus ia lakukan untuk menunjukkan cintanya dan tidak akan pernah menyakitimu. Apabila tanpa ia sadari ia menyakiti dirimu, ia tidak ragu untuk mendatangimu, mengakui kesalahan dengan jantan dan meminta maaf dengan tulus. Ia adalah pria yang menghargai dan menghormati wanita. Tidak ada yang lebih menjijikkan dibandingkan pria yang merendahkan, sering melakukan kekerasan fisik dan verbal terhadap wanita.
2. Pria yang kata-katanya sesuai dengan tindakannya
Ketika ia berkata ya, maka ia akan melakukannya, ketika ia berkata tidak, maka ia akan tidak akan melakukannya. Termasuk dalam ciri-ciri ini adalah pria yang setia terhadap pasangannya. Saat ia berjanji bahwa kamu adalah wanita satu-satunya yang ia cintai, maka ia benar-benar tidak memiliki wanita lain di hatinya. Intinya, ia mampu mempertanggungjawabkan kata-katanya dan merealisasikannya dalam tindakan (tidak plin plan).
3. Pria yang mencintaimu luar dan dalam
Mengapa pria seperti ini tepat? Karena ia tidak mencintai kecantikan fisik wanita saja. Ia bisa mencintai segala kelebihan dan kekuranganmu, baik fisik, sikap, dan kebiasaanmu. Dan yang paling penting, ia bisa mencintai ketidaksempurnaanmu secara sempurna.
4. Pria yang punya masa depan cerah
Jika kamu benar-benar serius untuk membina hubungan sampai jenjang pernikahan, maka karakteristik ini harus benar-benar kamu pikirkan. Apakah kamu harus memilih pria yang mapan dalam pekerjaan dan keuangannya? Tidak juga. Yang paling penting adalah ia dewasa dalam berpikir dan memiliki rencana-rencana ke depan yang jelas, tidak menghabiskan waktunya hanya dengan bermain game dan menonton tv. Ia bisa menyeimbangkan antara having fun dan beristirahat dengan pekerjaan dan produktivitas.
5. Pria yang mampu membimbing dan melindungimu
Dalam sebuah hubungan, pria adalah leader. Bersamanya, kamu dapat berkembang menjadi wanita yang lebih baik. Ia juga menjadi orang pertama yang berada di depanmu untuk melindungimu dari segala macam bahaya.
6. Pria yang percaya diri
Ia mungkin tidak tampan, tapi ia selalu terlihat bersemangat, wajahnya cerah, berani menghadapi orang, dan memiliki kepribadian yang menyenangkan. Dan yang paling penting adalah ia tetap menjadi dirinya sendiri dan tidak berusaha mati-matian untuk mengubah sikapnya dan berperilaku seperti orang lain (misalnya aktor yang kamu suka) ketika ia mencoba untuk menarik perhatian dirimu.
7. Pria yang independen
Apakah pria yang meluangkan setiap jam,menit,dan detik untuk dirimu adalah pria yang tepat untukmu? Singkat saja, TIDAK. Karena itu berarti ia terlalu terikat pada dirimu dan bisa membuatnya bersikap posesif ketika ia sudah mendapatkan dirimu. Pria yang independen adalah pria yang juga memikirkan hidupnya sendiri, meluangkan waktu untuk keluarga dan teman-temannya dan mengerjakan hobinya sendiri. Sekali lagi, jangan pernah memilih pria yang terlalu lekat dan terlalu membutuhkanmu, karena ia sendiri yang akan menjadi orang yang merusak hubunganmu dengan dirinya dan orang lain di masa depan.
8. Pria yang apresiatif
Ia adalah orang yang peka dan perhatian terhadap hal-hal kecil yang kamu lakukan. Ketika kamu berusaha untuk tampil cantik, ia akan memujimu. Ketika kamu mengambilkan air minum untuk dirinya, ia akan mengucapkan terima kasih. Ketika kamu melakukan hal-hal yang di luar kebiasaanmu, ia mengamati perubahanmu.
9. Pria yang jujur dalam bertindak dan berkata-kata
Ia bisa berkata yang sebenarnya terjadi ketika ia melakukan kesalahan dan ia melakukan segala sesuatu untuk dirimu dengan tulus tanpa maksud buruk tertentu. Selain itu, ia adalah pria yang tidak mencari approval (persetujuan) darimu dengan selalu memberikan pujian, tetapi ia juga bisa mengkritik dirimu ketika kamu melakukan kesalahan. Pujian penting untuk membuatmu semakin termotivasi sedangkan kritik penting untuk membuatmu menjadi wanita yang lebih baik lagi.
10. Pria yang punya moralitas yang baik
Tingkat moralitas dirinya juga berpengaruh terhadap hubunganmu kelak. Pria yang jarang bermasalah dengan dirinya sendiri dan masyarakat cenderung akan berlaku baik dalam hubungan denganmu. Moralitas yang rendah (suka menyelesaikan masalah dengan kekerasan, akrab dengan kriminalitas, narkoba, dan free-sex) akan membawa sebuah hubungan ke dalam masalah kekerasan, pertengkaran, dan perselingkuhan

Jangan terlalu berharap pada manusia

Berbagai persoalan yang kita hadapi menuntut kita untuk dapat menyelesaikannya. Salah satu solusi yang kita lakukan adalah dengan adanya bantuan dari pihak lain. Tidak dapat dipungkiri bahwa pilihan kita untuk meminta bantuan dari orang lain akan menjadi harapan tersendiri yang akan dapat menyelesaikan permasalahan kita. Tapi perlu diingat bahwa permintaan kita kepada orang lain bukan satu-satunya cara.

Sebagai seorang muslim yang menyatakan bahwa Rabb kami ia Allah, maka sudah selayaknya segala sesuatunya kita mohonkan bantuan dan pengharapan kita pada Allah. Bila kita terlalu berharap pada makhluk-Nya, kita akan menemukan kekecewaan yang teramat mendalam. Makhuk-Nya penuh dengan berbagai kekurangan yang belum tentu bisa membantu memecahkan persoalan kita.

Allah itu maha. Maha kuasa, maha kaya dan segala maha ada pada-NYa. Jika Allah berkehendak maka tak sesuatupun yang bakal menghalangi-Nya, bergantung kepada-Nya adalah hal yang paling indah dan sebaik-baik mengadu adalah mengadu kepada-Nya.

Firman Allah:

"Dan hanya kepada Allah hendaknya kamu bertawakkal jika kamu benar-benar orang yang beriman."
Qs. Al-Maidah : 23

"Sesungguhnya Allah telah menolong kamu di beberapa banyak tempat dan pada peperangan Hunain, tatkala kamu sombong dengan banyaknya kamu, tetapi tidak berfaedah bagi kamu sedikitpun, dan (jadi) sempit bagi kamu bumi yang luas itu, kemudian kamu berpaling sambil mundur." Qs. At-Taubah: 25

** MENGGALI KESABARAN **

Kesabaran tidak selalu harus dimaknai sebagai sikap “pasif”, pasrah terhadap keadaan, menerima apa adanya, yang selanjutnya bahkan sering dipersepsi – secara tidak tepat — sebagai sikap “qana’ah”. Lebih bermakna dari itu semua, kesabaran sudah semestinya dipandang sebagai sikap proaktif untuk mengubah keadaan “menjadi  serba lebih baik”. Itulah yang saya pahami, sebagai pesan moral dari tulisan (Mas) Zaim Uchrowi yang berjudul: “Masyarakat Yang Sabar” dalam rubrik Resonansi, Republika, Jumat, 23 September 2005.
SABAR, kata para ahli bahasa, secara harfiah berarti “bertahan” atau “menahan diri”. Sebuah sifat mulia yang seharusnya dimiliki oleh setiap orang, dalam status dan peran apa pun. Bentuk konkret sabar yang dilembagakan dalam (agama) Islam antara lain adalah kesadaran untuk ber-imsak (menahan diri), yang diformalkan ajarannya dalam kewajiban berpuasa. Ketika berpuasa, seorang Muslim harus “menahan diri” dari perbuatan-perbuatan yang tidak perlu, apalagi perbuatan yang dilarang, dan untuk selanjutnya — bersikap proaktif untuk beramal shalih, meskipun harus bergulat dengan realitas serba tidak ideal, di antaranya: kondisi “lapar dan dahaga”.
Sayang! Pemahaman sebagian orang terhadap ajaran untuk “menahan diri” ini seringkali terjebak pada pemaknaan eksoterik (lahiriah), menahan diri dari makan- minum, dan utamanya “jima’” (hubungan badan suami istri).
Padahal, ketika kita mau sedikit bergeser untuk memaknainya dalam dimensi esoterik (batiniah)-nya, maka kita akan menemukan makna terdalam dari terma imsak ini, menahan diri dari perbuatan-perbuatan yang merugikan diri sendiri dan (juga) merugikan orang lain kurang begitu dipahami. Tidak hanya itu, di ketika kita lupa untuk memahami maksud Hadits-Hadits Nabi saw tentang makna puasa, maka makna esensial imsak pun seringkali terlupakan. Imsak setiap Muslim yang telah berpuasa, belum – secara jelas — memercik dalam kehidupan riil dalam bangunan kehidupan intrapersonal, interpersonal dan sosial. Tegasnya: belum menjadi keshalihan individual dan kolektif.
Dari realitas inilah kita bisa memahami intisari nasihat Nabi saw dalam salah satu sabda beliau: kam min sha‘imin laisa lahu min shiyamihi illa al-ju’u wa al-‘athasyu, betapa banyak orang yang sudah (merasa) berpuasa, namun tidak pernah sekalipun mendapatkan makna dan pahala puasanya kecuali rasa) lapar dan dahaga.
Kini saatnya kita maknai sabar dalam pengertian imsak. Sabar – dalam pengertian imsak – minimal bisa kita maknai dengan 3 (tiga) pengertian: (1) sabar di saat kita mengerjakan perintah Allah (kebajikan), (2) sabar di saat kita meninggalkan larangan Allah (kemunkaran), dan (3) sabar dalam menerima terhadap takdir; baik yang berupa musibah (sebagai peringatan, ujian maupun nikmat terselubung dari Allah).
Pertama, kita harus bersabar untuk membiasakan sesuatu yang baik dan benar. Meskipun  “yang baik dan benar” itu tidak selamanya dianggap wajar oleh semua orang. Bahkan – konon kabarnya – orang yang selalu membiasakan yang baik dan benar harus rela menjadi seseorang dan sekelompok orang yang terpinggirkan, hanya karena menyempal dari kebiasaaan mayoritas.
Dia bersama dengan kelompoknya harus bersedia menjadi ghurabâ’, sekelompok manusia yang – kata Nabi saw – selalu melakukan ishlah (perbaikan diri dan komunitasnya) untuk kepentingan  kemanusiaan-universal, di ketika mayoritas (manusia) sedang menikmati sistem dan  budaya korup.
Rasa haus dan lapar – sebagai media untuk memahami realitas sosial-kemanusian – dalam berpuasa bagi setiap muslim sudah seharusnya menjadi tindakan yang proaktif yang dilakukan dengan ikhlas karena Allah, — di samping menjadikan dirinya semakin dekat kepada Allah, juga benar-benar berimplikasi pada lahirnya tindakan kepedulian-sosial untuk menyelesaikan berbagai persoalan sosial-kemanusiaan yang tidak pernah sepi (selalu) berada di hadapannya. Di sinilah doktrin amar ma’ruf menemukan implementasinya.
Kedua, kita harus bersabar untuk tidak melakukan kemunkaran. Tindakan proaktifnya adalah: melawan segala tindakan yang merugikan diri dan semua orang. Seorang Muslim yang memiliki sikap sabar, tidak akan pernah berputus asa untuk melaksanakan misi kerahmatan Islam, menuju visi yang sama: menggapai rahmat Allah (dalam pengertian yang lebih substantif).
Seperti pesan-moral Nabi saw: “tidak pernah ada kata putus asa bagi setiap Muslim  untuk menggapai rahmat Allah”. Setiap Muslim – sudah seharusnya – memiliki kesabaran untuk mengupayakan wujudnya rahmat Allah di tengah-tengah umat manusia, dengan selalu peduli untuk ber”nahi munkar”. Dengan kata lain, kita – setiap muslim — wajib bersabar untuk terus melawan segala bentuk kemunkaran, oleh siapa pun kepada siapa pun.
Ketiga, kita harus bersabar terhadap takdir Tuhan. Sabar di sini adalah ridla terhadap semua kejadian yang menimpa diri kita, yang berarti imsak dari sikap mengeluh, apalagi menyesali setiap perolehan dari Allah, dengan sikap dan tindakan yang serba-positif. Dengan demikian sabar adalah melakukan refleksi-kritis terhadap berbagai hal yang menimpa diri kita.
Karena betapa pun Allah – dengan segala kebijakan dan keberpihakan-Nya terhadap diri kita — tidak akan pernah sekali pun bersikap dzalim terhadap hamba-Nya. Bahkan kita perlu berkontemplasi dengan selalu bertanya: peringatan, ujian dan nikmat-terselubung apa yang tengah diberikan oleh Allah terhadap diri kita, di saat musibah silih-berganti menyapa diri kita? Inikah pelajaran terbaik dari Allah pada diri kita, setelah kita terlalu banyak lupa untuk mengingat-Nya?
Seseorang yang memiliki kesabaran tidak pernah akan mengeluh karena panjangnya waktu yang dilalui untuk meraih kesuksesan. Dia juga tidak pernah bosan untuk menghadapi tantangan.

Kini kita semakin sadar, begitu tinggi nilai kesabaran kita. Sampai-sampai Al-Qur’an menyebutnya lebih dari 80 (delapan puluh) kali dalam berbagai ragamnya. Ketika menghadapi musibah, kita diperintahkan menempuh laku ash-shabru ’inda al-mushibah (sabar ketika ditimpa musibah); ketika menghadapi godaan setan yang selalu membujuk kita untuk bermaksiat, kita diperintahkan menempuh laku ash-shabru ‘an al-ma’shiyah (sabar untuk tidak berbuat maksiat), dan kita pun diperintahkan untuk menempuh laku ash-shabru ‘alaa ath-tha’ah (sabar untuk berbuat baik). Semuanya ternyata bernilai positif, meskipun ketiga ragam kesabaran itu – tentu saja — bukan sesuatu yang mudah untuk kita jalani.
Konon kabarnya, seseorang yang tengah menghadapi rintangan yang berat, terkadang hati kecilnya membisikkan agar ia berhenti (berputus asa), meski yang diharapkannya belum tercapai. Dorongan hati kecil itu selanjutnya menjadi keinginan jiwa. Dan jika keinginan itu ditahan, ditekan, dan tidak diikuti, maka tindakan ini merupakan pengejawantahan dari hakikat sabar yang mendorongnya agar tetap melanjutkan usahanya walaupun harus menghadapi berbagai rintangan yang berat. Dia akan terus berproses untuk menjadi apa dan siapa pun yang dicita-citakannya dalam suka dan duka, dengan cara apa pun yang terus ia cari dalam bentuk kreativitas untuk selalu berbuat sesuatu, kapan dan di mana pun.
Betapa pun sulitnya kita menanamkan sikap sabar ke dalam diri kita, kesabaran – yang merupakan energi dan kekuatan diri kita — harus selalu melekat pada setiap pribadi Muslim. Dengan kesabaran yang tinggi, seseorang pasti akan selalu tabah dan ulet dalam mengarungi bahtera kehidupan yang sangat fluktuatif, kadangkala mendaki, menurun, terjal, datar, dan kadangkala pula sangat licin. Kadangkala di atas, kadangkala di bawah, kadangkala dalam posisi dan jabatan yang tinggi, dan kadangkala tidak memiliki jabatan sama sekali. Sabar pada hakikatnya bukanlah sesuatu yang harus ditunjukkan dengan keluhahan, penyerahan diri, dan bukan pula sikap pasif untuk tidak beraktivitas apa pun. Sabar harus menjadi instrumen untuk membangun ketangguhan dalam melakukan sesuatu yang serba-positif, ketika berhadapan dengan rintangan dan tantangan.
Justru, bagi setiap orang yang bisa bersabar, rintangan dan tantangan dijadikannya sebagai suatu peluang dan kesempatan untuk semakin dinamis dalam mempersembahkan yang terbaik dalam kehidupannya.
Dalam kehidupan kita, setiap Muslim harus selalu berpikir untuk memecahkan masalah, mengambil keputusan dan melahirkan kreativitas dengan spirit kesabaran. Kesabaran untuk meraih sesuatu yang terbaik kadangkala membutuhkan waktu yang cukup panjang dan tidak cukup dengan satu kali cobaan, sehingga seseorang semakin terbukti dan teruji.
Seseorang yang memiliki kesabaran tidak pernah akan mengeluh karena panjangnya waktu yang dilalui untuk meraih kesuksesan. Dia juga tidak pernah bosan untuk menghadapi tantangan. Dan kita pun bisa berkesimpulan, bahwa kesabaran dalam tiga dimensinya harus selalu ada pada setiap Muslim.
Pertama, sabar dalam pengertian berkemauan dan berkemampuan menempuh laku imsâk ketika menghadapi godaan setan yang selalu membujuk untuk bermaksiat, dengan satu kesedian untuk mengatakan “tidak” terhadap setan, di ketika mereka membujuknya untuk mengkhianati Allah dan Rasul-Nya.
Kedua, sabar dalam pengertian berkemauan dan berkemampuan menempuh laku imsak untuk berbuat baik dan benar, dengan satu kesediaan untuk mengatakan “ya” terhadap semua perintah Allah dan Rasul-Nya.
Ketiga, sabar dalam pengertian berkemauan dan berkemampuan menempuh laku imsak di ketika menghadapi musibah, dengan berkemauan dan berkemampuan untuk mengendalikan emosi, sehingga tidak sampai bersikap putus asa dalam menghadapi semua persoalan hidup,  betapa pun beratnya, dengan satu kesediaan untuk mengatakan “inna lilla wa inna ilaihi raji’un” (semuanya milik Allah, dan pasti hanya akan kembali kepada-Nya).
Setelah kita pahami esensi sikap sabar yang kita miliki, kita pun bisa bertanya kepada diri kita: Kenapa harus pesimis? Dengan sikap sabar (yang proporsional), masa depan akan selalu kita retas dengan sikap optimis!

NARSIS (PENYIMPANGAN KEPRIBADIAN)

NARSIS (PENYIMPANGAN KEPRIBADIAN)
========================
Narsis, kata ini tentunya sering kita dengar dalam kehidupan sehari-hari. Ya, Narsis merupakan salah satu penyimpangan kepribadian mental seseorang dimana orang tersebut memiliki perasaan yang berlebihan bahwa dirinya lah yang paling penting, dan menginginkan untuk selalu dikagumi. Penyimpangan kepribadian adalah istilah umum untuk jenis penyakit mental seseorang, dimana pada kondisi tersebut cara berpikir, cara memahami situasi dan kemampuan berhubungan dengan orang lain tidak berfungsi normal. Kondisi itu membuat seseorang memiliki sifat yang menyebabkannya merasa dan berperilaku dengan cara-cara yang menyedihkan, membatasi kemampuannya untuk dapat berperan dalam suatu hubungan.

Orang-orang yang narsis meyakini bahwa mereka adalah orang-orang yang lebih unggul daripada orang lain dan kurang bisa menghargai perasaan orang lain. Namun dibalik rasa percaya dirinya yang teramat kuat, sebenarnya orang narsis memiliki penghargaan terhadap diri sendiri yang lemah, mudah tersinggung meskipun terhadap kritikan kecil.

Sebenarnya kata narsis sendiri berasal dari seorang tokoh bernama Narciscus yang gemar mengagumi dirinya dengan bercermin di atas kolam. Hal inilah yang akhirnya menjadi dasar mengapa orang-orang yang terlalu berlebihan dalam mengagumi dirinya sendiri disebut narsis. Untuk lebih mengenal dan mengetahui perilaku narsis ini, simak beberapa hal berikut yang merupakan ciri-ciri dari penderita narsis:

* Ditandai dengan perilaku yang emosional dan dramatis, dan dapat juga dikategorikan ke dalam penyimpangan perilaku yang antisosial.

* Memiliki perasaan bangga yang berlebihan tentang kehebatan atau keunikan dirinya, misalnya membanggakan kemampuannya, kecantikan atau bakatnya secara berlebihan.

* Melebih-lebihkan prestasi yang dicapainya atau memusatkan perhatian berlebihan pada permasalahannya.

* Hanya berfokus pada fantasi tentang sukses, kekuatan, kecemerlangan, kecantikan atau mendapatkan cinta dari pasangan ideal.

* Selalu membutuhkan dan mengharapkan perhatian dan pujian secara terus-menerus.

* Dalam merespons kritik atau kekalahan dapat berupa reaksi marah berlebihan.

* Orang narsis memiliki keyakinan bahwa dialah orang yang lebih baik dan istimewa daripada orang lain.

* Tidak bisa memahami emosi dan perasaan orang lain

* Mengharapkan orang lain untuk selalu setuju dengan segala ide dan rencananya

* Suka mengambil keuntungan dari orang lain

* Mengekspresikan penghinaan kepada orang-orang yang dianggapnya lebih rendah

* Suka cemburu terhadap orang lain

* Memiliki keyakinan bahwa orang lain selalu cemburu terhadap dirinya

* Sulit menjaga hubungan yang baik dan sehat

* Membuat tujuan-tujuan yang seringkali tidak masuk akal

* Menjadi mudah terluka dan ditolak

* Memiliki rasa pengharagaan terhadap diri sendiri yang rapuh dan lemah

* Terlihat seperti orang yang keras hati dan emosional

* Memiliki sifat yang congkak, angkuh dan sombong

* Bisa menjadi sangat marah dan tidak sabar bila tidak mendapatkan perlakuan yang istimewa dari seseorang yang diharapkan

* Memaksakan untuk memiliki segala sesuatu yang terbaik

* Memiliki perasaan malu dan terhina, dan agar bisa merasa lebih baik, maka akan bereaksi dengan marah, menghina atau meremehkan orang lain.

Dari ciri-ciri tersebut, karakter narsis sekilas terlihat mirip seperti karakter orang dengan rasa percaya diri yang kuat. Padahal hal tersebut tidak lah sama. Orang narsis memang memiliki rasa percaya diri yang kuat, namun rasa percaya diri tersebut adalah rasa percaya diri yang tidak sehat, karena hanya memandang dirinya lah yang paling hebat dari orang lain. Di sisi lain, orang dengan rasa percaya diri yang sehat tidak mengagung-agungkan dirinya saja, namun juga bisa menghargai orang lain.
SELANJUTNYA ....
Apa itu Narsisisme?

Menurut kamus Wikipedia, (http://id.wikipedia.org/wiki/Narsisisme)
Narsisme adalah perasaan cinta terhadap diri sendiri yang berlebihan. Istilah ini pertama kali digunakan dalam psikologi oleh Sigmund Freud dengan mengambil dari tokoh dalam mitos Yunani, Narcissus, yang dikutuk sehingga ia mencintai bayangannya sendiri di kolam. Tanpa sengaja ia menjulurkan tangannya, sehingga ia tenggelam dan tumbuh bunga yang sampai sekarang disebut bunga narsis.

Sifat narsisisme ada dalam setiap manusia sejak lahir[1], bahkan Andrew Morrison berpendapat bahwa dimilikinya sifat narsisisme dalam jumlah yang cukup akan membuat seseorang memiliki persepsi yang seimbang antara kebutuhannya dalam hubungannya dengan orang lain[2]. Namun apabila jumlahnya berlebihan, dapat menjadi suatu kelainan kepribadian yang bersifat patologis. (Patologi merupakan cabang bidang kedokteran yang berkaitan dengan ciri-ciri dan perkembangan penyakit melalui analisis perubahan fungsi atau keadaan bagian tubuh.)

1 Freud, Sigmund. 1914. On Narcissism: An Introduction.
2 Morrison, Andrew. 1997. Shame: The Underside of Narcissism. The Analytic Press.

Kata Narsis diambil dari mitologi Yunani tentang seorang laki-laki bernama Narcissus, laki-laki yang terkenal ketampanannya, putra dari dewa sungai Cephissus dan peri Liriope. Wajahnya yang rupawan bikin setiap wanita jatuh hati. Salah satu wanita yang “cinta mati” dengan Narcissus adalah Echo. Tapi sayang, cinta Echo bertepuk sebelah tangan. Echo menjadi sedih dan bersembunyi di tengah hutan yang sepi karena malu. Tubuh Echo makin lama makin menghilang hingga yang terdengar cuma suaranya. Melihat kesedihan Echo, Afrodite – dewi asmara yang rupawan- memberikan pelajaran buat Narcissus. Eros, putra kecil Afrodite dengan ijin ibunya melepaskan anak panah ke jantung hati Narccisus. Sehingga dia jatuh cinta kepada dirinya sendiri.

Suatu hari Narcissus sedang berjalan dan tanpa sengaja dia melihat ke sungai Styx. Narcissus kaget melihat ada wajah seseorang yang sangat rupawan. Sekali melihat, Narcissus langsung jatuh cinta. Dia tidak beranjak sedikit pun dari pinggir sungai. Sisa hidupnya dihabiskan hanya untuk melihat bayangan wajahnya. Sampai akhirnya, dewa-dewa lain menemukan mayatnya yang terbujur kaku di tepi kolam lalu mengubahnya menjadi bunga yang di sebut bunga Narcissus.

Dari kisah “MITOS” di atas lahirlah perilaku yang disebut narsisme. Menurut Spencer A Rathus dan Jeffrey S Nevid dalam bukunya, Abnormal Psychology (2000), orang yang narcissistic memandang dirinya dengan cara yang berlebihan. Mereka senang sekali menyombongkan dirinya dan selalu berharap orang lain memberikan sanjungan untuknya.

Narsis dalam Islam

Allah berfirman,

وَلا تُصَعِّرْ خَدَّكَ لِلنَّاسِ وَلا تَمْشِ فِي الأرْضِ مَرَحًا إِنَّ اللَّهَ لا يُحِبُّ كُلَّ مُخْتَالٍ فَخُورٍ

“dan janganlah kamu memalingkan mukamu dari manusia (karena sombong) dan janganlah kamu berjalan di muka bumi dengan angkuh. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang sombong lagi membanggakan diri.” (QS. Luqman [31]: 18)
Di bagian lain Rasulullah SAW bersabda,

"Ada tiga hal yang dapat membinasakan diri seseorang yaitu : Kekikiran yang ditaati, hawa nafsu yang diikuti serta seseorang yang membanggakan dirinya sendiri". (Hadits ini disebutkan oleh Al-Mundziry dalam kitab At-Targhib wa Tarhib 1/162 yang diriwayatkan oleh Al-Bazzar dan Al-Baihaqi serta dishahihkan oleh Al-Albany).

Dari uraian ayat dan hadist diatas, jelas bahwa Narsis termasuk yang dapat digolongkan kepada sikap sombong dan membanggakan diri yang mengarahkan kita kepada sifat ujub atau takabur. Perilaku ini tentunya adalah suatu sikap yang tidak terpuji bagi kita sebagai Muslim yang menyandarkan haq-nya kepada tuntunan Al Qur'an dan As Sunnah semata.

Gencarnya budaya hedonisme (menyandarkan status sosial dan kesuksesan pada ukuran materi harta benda dan kekuasaan) saat ini dapat menjadikan perilaku Narsis semakin meluas dan pada akhirnya mengikis keimanan kita secara perlahan-lahan. Lalu bagaimanakah kita mampu bertahan dan mengatasinya agar kita tidak ikut-ikutan menjadi orang-orang yang membenarkan sebuah kebiasaan, tetapi membiasakan sebuah kebenaran?

Menangkal Narsisisme

1. Membentengi diri dari rasa sombong dengan cara memperbanyak dan memperdalam ilmu agama, selalu mengingat Allah SWT dimanapun kita berada. Lebih banyak melihat kebawah agar kita lebih mensykuri nikmat yang Allah berikan kepada kita, sehingga rasa sombong dapat terhapus dari dalam diri kita. Insya Allah. Bukankah Rasulullah SAW juga pernah bersabda,
Pandanglah orang yang di bawah kamu dan janganlah memandang kepada yang di atasmu, karena itu akan lebih layak bagimu untuk tidak menghina kenikmatan Allah untukmu. (HR. Muslim) - Nabi Muhammad SAW.

2. Melindungi diri dari mental haus pujian. Kalau kita tidak pandai mensikapi sanjungan, maka sebuah sanjungan bisa menjadi bumerang bagi kita. karena sanjungan dapat membuat kita terlena dan pada akhirnya menghabiskan segenap potensi di dalam diri kita. Sanjungan bukanlah tujuan dari perbuatan kita sebagai orang Muslim, karena sudah seharusnya setiap langkah dan perbuatan kita hanya berorientasi kepada Ibadah semata kepada Allah Azza Wajalla. Seperti diucapkan oleh Umar bin Khaththab r.a: “Ya Allah! Jadikanlah semua amalku sebagai amal shalih, dan janganlah Engkau jadikan amalku itu untuk seseorang sedikitpun”.

3. Memelihara keikhlasan kita dalam berbuat. Abu Qasim Al-Qusyairi menjelaskan “Ikhlas adalah menjadikan satu-satunya yang berhak ditaati dalam sebuah niat ialah Allah swt. Artinya, bahwa yang diinginkan dengan ketaatannya itu hanyalah untuk bertaqarrub (mendekatkan diri) kepada Allah semata; tidak untuk dipamerkan kepada seseorang, mencari popularitas, atau ingin disanjung-sanjung.” Selain menjaga diri kita dari perilaku narsis, keikhlasan juga dapat membuat kita lebih pandai bersyukur atas karunia-Nya kepada kita, membuat hati terasa lebih tenang dan nyaman serta menjadikan diri kita dalam keadaan yang “sebenar”-nya, just the way we are. Karena sesungguhnya topeng-topeng keduniawian yang kita kenakan hampir setiap hari, tidak pernah mampu menjadi jalan bagi terciptanya kedamaian di hati kita.

4. Menumbuhkan kepekaan dan rasa kepedulian terhadap sesama dapat menjadikan kita sebagai pribadi yang terbuka terhadap kritik, mampu memilah-milah kata yang kita ucapkan dan tentunya dapat menghindari kita dari perilaku narsisisme yang salah satunya ditandai dengan sikap anti kritik. Kebanyakan perilaku narsisisme adalah sikap anti kritik dimana orang lain tidak berhak memberi kritikan kepada mereka. Orang lain hanya mempunyai hak untuk menikmati perilaku narsisnya dan memberikan apresiasi atas apa yang dilakukan. Padahal seharusnya kritik atau nasihat dalam agama adalah pengawal di dalam kehidupan kita yang tidak pernah kita bayar agar kita selalu dalam koridor kebenaran. Hanya orang yang sudah mati yang tidak akan pernah mendapatkan kritik atau nasihat.

Demikianlah semoga kita dapat selalu terjaga dari perilaku-perilaku yang menjauhkan kita dari keimanan dan ketaqwaan kepada Allah SWT sehingga Insya Allah, Dia selalu memberikan ridho serta barakah-Nya kepada kita semua dan menjadikan kita insan-insan yang pantas mendapatkan perlindungan serta keselamatan dari-Nya. Amiin Allahumma Amiin.

Subhanakallahuma wabihamdika ashadu alla ila ha illa anta astaghfiruka wa atubuh ‘ilaik. Barakallahu Fiikum. Wassalam.

Mohon dimaafkan jika ada kesalahan dalam penyampaian

Cara Keliru Mengatasi Galau **

Dengan menyebut Nama Tuhan Yang Maha Pengasih Lagi Maha Penyayang.
Semoga Anda sekalian disukseskan & diberkahi olehNya.


Ketika kita sedang galau, masing-masing dari kita memiliki cara masing-masing untuk mengatasi kegalauan. Ntah cara itu didapat dari ajaran agama, ahli psikolog, televisi, orang tua, teman, majalah, buku, artikel, dan lainnya. Sekarang, izinkan saya menyampaikan sesuatu demi kebaikan kita bersama. Tanpa mengurangi rasa hormat saya kepada pengajar penghilang galau, sebetulnya ada beberapa cara menghilangkan galau yang keliru. Bahkan cara-cara tersebut beracun!


Telah terbukti, tidak perlu saya sebut siapa orangnya, ketika ada seorang Galauers telah mempelajari cara-cara tersebut, kemudian mereka mempraktekkannya. Lalu mereka mengaku, bahwa kegalauannya tidak bisa hilang. Bahkan muncul lagi. Bahkan bertambah parah. Kejadian ini benar-benar mengambil perhatian saya. Soalnya terlampau banyak, mungkin saja Anda termasuk. Menurut saya, ini adalah hal yang sangat wajib untuk kita diskusikan. Terus, apa-apa sajakah cara yang keliru itu? Adapun cara-cara keliru tersebut adalah:

Mendengar musik
Bermain musik
Menonton TV
Bermain game
Jalan-jalan
Makan-makan
Berteriak
Curhat kepada teman (yang ini relatif)
dan sebagainya.


Lho? Kenapa cara-cara tersebut keliru? Padahal kan jelas-jelas cara-cara tersebut mengenakkan? Iyah. Sebelumnya, kita kembali kedefisini galau dulu. Pada tulisan saya yang sebelumnya -Cara Jitu Menghilangkan Rasa Galau-, definisi dari galau yang kita bahas disini adalah sebuah kondisi dimana seseorang sedang dalam masalah yang membuatnya gelisah, dan dia cenderung sendirian serta sedih karena tidak bisa menerima kejadian masa lalu juga tidak jelasnya masa depannya. Plus, biasanya keadaan ini terjadi pada anak muda. Dan galau ini merupakan hal yang sangat wajar terjadi pada para anak muda. Betul, sangat wajar pada anak muda. Yang tidak wajarnya adalah, pertama, galau yang lamaaaaa sekali. Kedua galau yang sebabnya itu-itu saja. Singkatnya, galau itu adalah tanda bahwa seseorang sedang tumbuh agar menjadi dewasa. Jadi, tolong garisbawahi kalimat berikut ini, bila seseorang galau, kemudian dia tidak galau lagi karena suatu hal, dia perlu memegang erat suatu hal itu, dan silahkan tumbuhlah menjadi dewasa.

Baiklah, saatnya kita bahas. Alasan beberapa orang yang galau hendak melakoni cara-cara di atas adalah karena mereka bilang mereka tidak boleh membiarkan diri mereka terperangkap dalam perasaan kecewa, perih, gusar dll itu. Terus katanya, lebih baik mereka mencari kesenangan untuk bersenang-senang, lalu, mudah-mudahan dengan bersenang-senang itu mereka akan lupa dengan masalahnya. Saya rasa mereka ini tidak salah juga, niatnya bagus juga kok.

Namun, begini. Kalau mayoritas dari kita seperti itu, tidak heran mayoritas dari kita tidak pernah berhasil menyelesaikan 100% masalahnya. Dalam bahasa kita sehari-hari, sikap ini disebut juga dengan "kabur dari masalah". Mereka membuang muka dari masalah, kemudian menghadap ke musik-musik, acara televisi, game, jalan-jalan, dan 'mainan' lainnya. Lalu, ketika 'mainan' itu sudah tidak ada, sudah malam, sudah sepi, sendirian lagi, mereka teringat masalahnya lagi, lalu mereka kembali bersedih lagi, galau lagi. Ayo jujur, apakah Anda begitu? Saya pun begitu dulu.

Maka dari itu, jangan memanfaatkan yang enak-enak, yang ribut-ribut, yang meriah-meriah, yang heboh-heboh, dan kesenangan sementara lainnya untuk menyelesaikan masalah yang bisa kekal selamanya. Segalau apapun kita, hal terbaik yang harus kita lakukan adalah menghadapi kegalauan itu! Jangan lupa, “Allah tidak membebani seseorang kecuali sesuai dengan batas kemampuannya..." (QS. Al Baqarah : 287). Baiklah, sekarang, agar lebih menjelit, kita akan memperhatikan beberapa pengalaman galauers soal ini.


Pernah ada seseorang yang sedang galau berkonsultasi dengan saya, kemudian saya menyarankannya untuk melakukan beberapa hal. Saya tidak tahu apakah dia benar-benar melakoninya atau tidak. Kemudian, dia bilang kalau besok dia akan pergi ke luar kota, ke tempat saudaranya, dimana nantinya dia akan pergi jalan-jalan. Saya memperhatikan dia, dia senang sekali karena akan jalan-jalan bersama saudara-saudaranya. Lalu, pada hari yang direncanakan telah dilaksanakan, saya melihat beberapa update kiriman dari dirinya di Beranda Facebook saya. Kelihatannya dia betul-betul bahagia banget. Saya turut senang dia yang tadinya teramat galau kini menjadi teramat senang setelah jalan-jalan. 

Disinilah hal yang disayangkannya, ketika malam hari tiba, dia menghubungi saya lagi. Dia bilang, dia lagi galau, kali ini galaunya benar-benar bukan main. Lantas saya heran, "Lho? Kan tadi sudah asyik pergi jalan-jalan? Kelihatannya senang banget. Kok jadi sedih lagi sih?" Terus dia jawab, "Memang sih, tadi jalan-jalannya enak. Tapi enaknya cuman sementara. Masalah yang kemarin nggak selesai juga."

Lihat? Lagi. Ada juga orang yang 'mainan' sementaranya berupa berteriak-teriak, kebut-kebutan ketika berkendara, macam-macam deh. Lagi. Saya pernah memperhatikan, seseorang yang sedang membaca artikel yang kurang lebih membahas soal cara menghilangkan galau. Dan apa yang disebutkan di artikel itu adalah 'mainan' sementara yang kita bahas tadi. Apakah komentar mereka? Ini dia: (penulisan hurufnya telah saya perbaiki)
Sudah dilakukan semua, tapi tetap aja.
Kok masih tetap galau sih.
Apakah dengan cara itu kita bisa menghilangkan galau untuk selamanya?! Gimana caranya agar kita tidak terus-terusan menggalau?!
galauuuu.
Dan lain sebagainya. (Bila Anda tidak percaya, Anda boleh cari sendiri media dan orang yang mengomentari media itu, lalu tanya langsung apakah cara-cara itu telah membaikkan dirinya? Cara yang paling sederhana, silahkan buka Google.)
Memang, beberapa 'mainan' sementara juga cukup bermanfaat untuk kita lakoni pada detik-detik sebelum kita move on untuk mengatasi kegalauan kita. Iyah, cukup bermanfaat. Yang tidak bermanfaatnya, bila ketika kita hanya melakoni 'mainan' sementara tersebut, kemudian tidak melakukan apa-apa setelah itu. Ini ibarat menghias telur secantik mungkin, namun telurnya dibiarkan terlantar dan tidak dimanfaatkan sama sekali.


Jika Anda masih ingat dengan tulisan saya yang sebelumnya, anak muda yang seperti ini akan tumbuh menjadi orang tua, namun tidak tumbuh menjadi dewasa. Begitulah, tua tapi tidak dewasa. Karena banyak orang dewasa yang sepakat, bahwa, mereka dikatakan dewasa karena mereka telah berhasil mengatasi berbagai macam masalah. Itu sebabnya, jika ada satu masalah datang, akan datang lebih dari satu respon terhadap masalah itu. Beberapa diantaranya adalah respon anak muda dengan respon orang tua. Jelas, kedua respon itu berbeda.


Terakhir, jadi, bagaimana cara yang benar untuk mengatasi kegalauan? Rasa-rasanya saya tidak perlu menuliskannya lagi disini, jika Anda serius, silahkan baca artikel Cara Jitu Menghilangkan Rasa Galau. Sebab jurus-jurus terjitu untuk mengatasi galau berada disana.